Wisata Sejarah Aceh – Taman Sari Gunongan

Visitbandaaceh.com – Situs Cagar Budaya Taman Sari Gunongan terdiri dari gunongan, kandang, peterana, dan nisan serta jirat yang diletakkan di halaman gedung Balai Penyelamatan Cagar Budaya. Luas wilayah Taman Sari Gunongan yang saat ini dibatasi pagar lingkungan di bawah pengelolaan BPCB Banda Aceh adalah 1.204 ha atau 12.040 m2.

Tamansari Gunongan dibangun semasa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M). Tamansari Gunongan disebut juga Taman Ghairah yang ditengahnya mengalir Sungai Daroy (Darul Asyiqi).

Taman tersebut digunakan sebagai tempat bersenang-senang para permaisuri Sultan Iskandar Muda (Putri Pahang) anak Sultan Johor dari Malaysia. Sedangkan Kandang pada awalnya merupakan bangunan yang dipergunakan sebagai tempat kenduri oleh para keluarga Sultan Iskandar Muda. Setelah Sultan Iskandar Thani wafat ia dikebumikan ditempat ini, selanjutnya disebut komplek makam Iskandar Thani yang berdekatan dengan Gunongan.

Di sebelah barat Gunongan terdapat batu bundar berteras, pada masa Sultan Iskandar Muda digunakan tempat cuci rambut bagi para permaisuri sultan apabila sudah selesai mandi di sungai Darul Asyiqi, bagian timur Gunongan terdapat Pintu Khop, konon kabarnya pintu tersebut merupakan pintu gerbang bagian belakang istana sultan.

Bustanussalatin yang berarti taman raja-raja adalah judul kitab karangan Syeikh Nuruddin Ar-Raniri dan merupakan karya besar kesusastraan yang pernah ditulis dalam bahasa Melayu. Kitab tersebut ditulis oleh beliau pada tahun 1047 H (1637 M) yaitu pada masa kerajaan Aceh dipimpin oleh Sultan Iskandar Thani.

Manuskrip Bustan al-Salatin koleksi British Library. Kitab Bustan al-Salatin fi Zikr al-Awwalin wal Akhirin atau lazim dibaca Bustanus Salatin jika diterjemahkan kedalam bahasa Melayu berarti “taman para raja”. Foto : tengkuputeh.com

Taman yang bergelar Taman Ghairah ini disebutkan luasnya seribu depa. Taman yang luas yang dilalui oleh sungai Darul Asyiki, penuh aneka pohon bebungaan, bangunan-bangunan yang terbuat dari berbagai batu pualam warna-warni, serta tiang-tiang yang dibalut logam tembaga, perak, dan suasa yang berukir indah.

Bangunan yang saat ini masih tersisa sebagai bukti keindahan taman ini adalah Gunongan dan Pinto Khop. Cuplikan dalam kitab tersebut salah satunya menggambarkan melintasnya sungai, Darul Asyiki di tengah taman, yang kemudian sepanjang tepian sungai itulah Taman Bustanussalatin yang rimbun dan permai itu berada.

Darul Asyiki yang dikisahkan dalam Taman Bustanussalatin pada abad ke-17 yang lalu bersumber dari mata air jabalul-a’la, di arah magrib (barat), yang mungkin kita kenal sekarang daerah bernama Mata Ie, sedangkan Darul Asyiki untuk saat ini masih dapat kita jumpai dengan nama Krueng Daroy. Seterusnya dalam uraian mengenai bangunan Gunongan dan Taman Bustanussalatin itu disebutkan berbagai bangunan indah berlapis pualam dan disalut logam berukiran, yang atapnya dihiasi dengan kemuncak yang kemilau.

Taman dikitari oleh dinding batu berlapis kapur keperakan, dengan pintu gerbang yang berkup menghadap ke istana, yang bernama Pintu Biram Inderabangsa yang saat ini masih kita jumpai dengan sebutan Pinto Khop.

Lapangan luas dengan kersik berbatu pelinggam yang sangat indah, diberi nama Medan Khairani. Di tengahnya ada bukit dengan menara tempat sultan bersemayam, bergelar Gegunongan Menara Permata. Permata ini terbuat dari tiang tembaga, atap perak dengan motif sisik rumbiah. Hiasan puncak dari suasa yang gemerlapan apabila ditimpa sinar matahari.

Di dalamnya penuh hiasan dari permata (saat ini tidak ditemukan, kemungkinan dicuri dan dibawa oleh penjajah Belanda) dan di gunongan ini ditanam pula aneka bunga seperti cempaka, air mawar merah dan putih, serta srigading. Pada sisi bangunan ke arah sungai terdapat bangku batu berukir yang bergelar Kembang Lela Masyhadi, dan dihulunya berada peterana batu lainnya yang berwarna nilam yang disebutkan Kembang Seroja Berkerawang.

Sebuah masjid juga didirikan di taman ini, Mesjid yang dinamai Isyki Musyahadah dikelilingi dengan berbagai jenis pepohonan kelapa, seperti nyiur gading, nyiur nargi, nyiur putih, nyiur karah, nyiur manis, nyiur dadih, nyiur ratus, nyiur rumi, diselingi pula oleh pepohonan pinang, seperti pinang bulan, pinang gading, pinang bawang, dan pinang kacu.

Selain itu masih banyak lagi balai-balai yang indah yang disebutkan di dalam Kitab Bustanussalatin. Bangunan tersebut dirancang oleh ahli-ahli dari Cina dan Turki yang kaya dengan ukiran dan jenis bahannya.

1. Gunongan
Bangunan Gunongan atau gegunongan menara permata merupakan bangunan utama yang menyusun taman secara keseluruhan. Bangunan ini merupakan replika gunung bertingkat tiga dengan bagian puncak berupa teras berbentuk menara. Unsur utama dari penyebutan Gunongan pada bangunan ini adalah bentuk-bentuk lengkung menirukan topografi gunung yang berlapis-lapis.

Pada bagian puncak gunung terdapat ornamen berupa mutiara berkelopak. Tiap sudut bangunan dilengkapi dengan semacam altar berornamen bunga mekar berdaun runcing. Pintu masuk terdapat di sisi selatan, ambang pintunya sangat rendah sehingga jika kita ingin memasukinya harus dalam posisi membungkuk.

Secara filosofis hal ini dimaksudkan sebagai ungkapan perasaan hormat (yang dilakukan dengan sikap menunduk) apabila hendak memasuki suatu tempat atau bertamu. Pintu ini dahulu bernama gua berpintu tangkup perak.

Gunongan merupakan bangunan berdenah sudut sepuluh dengan ukuran lingkaran 46,45 m dengan tebal dinding bangunan mencapai 178 cm. Sementara itu denah lantai kedua juga bersudut sepuluh dengan ukuran lingkaran 24,66 m.

Di lantai kedua ini terdapat selasar yang melingkari dinding bangunan tingkat kedua yang berukuran tebal 180 cm. Selasar berukuran lebar 110 cm ini sebagian besarnya berlantai tanah yang ditumbuhi rerumputan.

Untuk menuju puncak, bangunan ini dilengkapi dengan anak tangga yang sempit dan terjal. Menaranya yang berukuran lingkar 7,14 m berbentuk kelopak-kelopak bunga mekar yang menjulang.

Bangunan Gunongan terbuat dari susunan batu gunung yang direkatkan dengan spesi berupa campuran antara tanah liat dan kapur, tinggi keseluruhan bangunan mencapai 9,86 meter.


2. Kandang

Di sebelah utara gunongan terdapat bangunan berdenah segi empat dengan pintu masuk di sisi selatan. Bangunan ini disebut kandang, berfungsi sebagai lokasi pemakaman.

Pada bangunan ini dimakamkan Sultan Iskandar Thani (1636 – 1641 M) yang merupakan pengganti Sultan Iskandar Muda dalam memerintah Kerajaan Aceh Darussalam. Ia juga merupakan menantu Sultan, suami Sultanah Tajul Alam (1641 – 1670 M). Kandang merupakan bangunan berteras setinggi 2 m yang dikelilingi oleh tembok setebal 45 cm, panjang 18 m, dan tinggi 4 m.

Ornamen-ornamen yang menghiasi bagian dinding berupa stilirisasi sulur-suluran yang membentuk pola belah ketupat dan segi tiga, mega berarak, dan bunga. Terdapat pula bentuk gunungan yang menghiasi bagian atas tengah dinding, dipadu dengan motif sulur-suluran. Sekeliling bagian atas dinding berhiaskan kuncup-kuncup bunga sejumlah 12 kuncup bunga. Keseluruhan bangunan yang tersisa di taman ini berwarna putih.

Di lokasi pemakaman ini ditemukan beberapa nisan berukir berukuran besar yang dilengkapi dengan kaligrafi yang indah, saat ini disimpan di depan gedung Balai Penyelamatan Cagar Budaya.

Selain itu dalam ekskavasi di lokasi ini ditemukan hiasan keranda yang berupa lembaran-lembaran emas berbentuk kelopak-kelopak bunga dan belah ketupat, diperkirakan merupakan ornamen yang ditempelkan pada keranda Sultan Iskandar Thani. Lembaran-lembaran emas ini saat ini tersimpan di Museum Negeri Aceh.

3. Peterana
Tepat di depan kiri gunongan terdapat batu berbentuk silinder berornamen kerawang motif jala yang dikenal sebagai peterana batu berukir. Batu ini berdiameter 1 m dan tinggi 0,50 m. Bagian tengahnya berlubang, dan sisi utara dilengkapi dengan trap semacam tangga sejumlah 2 tingkat.

4. Nisan dan Jirat
Dalam penggalian yang pernah dilakukan di dalam Kandang, ditemukannya sisa keranda berhiaskan lempengan emas, berbentuk kelopak-kelopak bunga dan belah ketupat. Diperkirakan ornamen ini ditempelkan pada keranda Sultan Iskandar Thani. Hiasan emas tersebut sekarang disimpan di Museum Negeri Aceh. Nisan-nisan yang saat ini tersimpan di Tamansari Gunôngan terdiri atas 7 (tujuh) nisan dan jirat.

Nisan-nisan dan jirat tersebut ditempatkan di halaman Gedung Penyelamatan Cagar Budaya di dalam kompleks Taman Sari Gunôngan, dalam susunan berderet utara-selatan. Penempatan seperti ini dilaksanakan dengan pertimbangan tidak adanya dokumentasi yang dapat memberi petunjuk posisi aslinya di dalam Kandang. Berikut ini adalah deskripsi dari nisan-nisan dan jirat tersebut (diurutkan dari arah selatan):

1. Nisan ini terbuat dari batu pasir warna abu-abu. Tipe nisan pipih bersayap, kemuncak bersusun tiga berhiaskan ukiran sulur-suluran, tidak ada panil kaligrafi di tubuh nisan. Pola hias yang dipahat di tubuh nisan berupa hiasan sulur-suluran, medalion, daun teratai di sudut-sudut, hiasan motif sarang lebah di tubuh bagian bawah.

2. Nisan urutan kedua, bahan dan bentuknya serupa dengan nisan pertama. Kemungkinan merupakan pasangan nisan pertama, meskipun belum bisa dipastikan, karena tidak ada dokumentasi yang dapat mendukung asumsi tersebut.

3. Nisan berikutnya juga terbuat dari bahan yang sama yaitu batu pasir warna abu-abu. Tipenya pipih tanpa sayap. Pola hias hanya terdapat di bagian bawah tubuh yang membatasi kaki. Pola hiasnya berupa daun teratai dan sarang lebah. Di bagian tubuh nisan terdapat panil berisi kaligrafi di empat sisinya. Bentuk panil berupa pola hias jendela yang terbagi menjadi tiga bagian panil. Kemuncak nisan berbentuk meruncing seperti kubah dengan panil kaligrafi yang bentuknya mengikuti pola kemuncak.

4. Nisan urutan ke empat terbuat dari batu pasir warna abu-abu. Tipe nisan pipih bersayap, kemuncak tidak bersusun dengan bentuk kubah meruncing. Pada bagian kemuncak ada panil kaligrafi yang bentuknya mengikuti pola kubah.

Bagian tubuh nisan memiliki panil kaligrafi di empat sisinya. Sisi depan dan belakang berpola jendela dengan tiga kotak sementara sisi kiri dan kanan berisi satu kotak.

Pada bagian sayap tidak ada hiasan medalion, tetapi adanya pola sulur-suluran yang di dalamnya nampak seperti kaligrafi tetapi sudah kurang jelas. Bagian kaki berhias daun teratai dan pola sarang lebah.

5. Nisan berikutnya bertipe pipih bersayap, terbuat dari bahan batu pasir warna abu-abu. Bagian sayap dan kemuncak telah patah. Pola hias di bagian tubuh mirip dengan nisan pertama, tetapi ukuran keseluruhan lebih kecil.

Panil kaligrafi berupa jendela dengan tiga kotak di sisi depan dan belakang . Ukuran panil lebih kecil dan tulisan kaligrafi sudah aus. Pola hias di bagian kaki berupa daun teratai dan sarang lebah.

6. Nisan berikutnya hanya tersisa bagian kaki saja. Nampaknya tipe nisan ini berpenampang pipih. Pada bagian kaki berhiasan daun teratai dan pola sarang lebah. Ada sedikit sisa panil kaligrafi yang tersisa di atas kaki. Nisan ini terbuat dari bahan batu pasir warna abu-abu.

7. Nisan terakhir berbentuk gada (silinder bersudut-sudut yang mengecil di bagian kaki). Sudut-sudut yang melingkar berjumlah delapan sudut. Kemuncaknya berhiaskan kelopak bunga. Bagian kaki berhiaskan pola sarang lebah, dan nisan tersebut tidak terdapat kaligrafi. Bahan nisan ini adalah batu pasir warna abu-abu.

8. Selain nisan, terdapat juga jirat yang sudah aus pola hiasnya. Hanya nampak sekilas pola sulur-suluran di bagian permukaannya, dan di ujungnya sudah tidak nampak bekas lubang untuk menancapkan nisan. (VBA)