Wisata Sejarah Taman Putroe Phang Kota Banda Aceh

Visitbandaaceh.com – Lokasi Taman Putroe Phang sangat mudah ditemukan bagi para pelancong karena dekat dengan Masjid Baiturrahman dan di samping Kerkhof, kuburan seluas 3.5 hektar berisi 2200 makam tentara Belanda yang tewas di tangan prajurit Kesultanan Aceh Darussalam. Sebelumnya kuburan ini merupakan makam keluarga besar Kesultanan Aceh Darussalam, terbukti dari makam Meurah Pupok, putra mahkota Sultan Iskandar Muda yang sudah terlebih dahulu dimakamkan sejak ratusan tahun lalu.

Alamat lengkap taman ini di Jl. Merapi no.37, Sukaramai, Kec. Baiturrahman, Kota Banda Aceh dan menempati area seluas 1000 draft (kurang lebih 1,5 kilometer persegi).

Lokasi Paman Putroe Phang sangat mudah ditemukan oleh para pelancong, dikarenakan terletak di dekat Masjid Baiturrahman, dan berseberangan dengan Kerkhof,


Bandara Sultan Iskandar Muda berjarak sekitar 17 km dari lokasi ini, dapat ditempuh melalui jl. Banda Aceh Medan atau Jl. Soekarno Hatta. Taman ini bisa menjadi alternatif untuk melepas penat di akhir pekan untuk menghabiskan waktu berkualitas bersama keluarga.

Sejarah Putroe Phang (Putri dari Pahang, Malaysia)

Taman ini dibangun oleh Sultan Iskandar Muda pada 1608 sampai 1636 M. Sultan Iskandar Muda membangun Taman Putroe Phang untuk istrinya, Putri Pahang. “Nama asli taman ini adalah taman Ghairah seperti disebutkan dalam kitab Bustanus Salalatin karangan ulama besar sekaligus mufti Kesultanan Aceh Darussalam, Syaikh Nuruddin Ar-Raniri pada tahunn 1636 M.

Ketika Sultan Iskandar Muda bertugas sebagai sultan dan membawa Aceh untuk kemuliaan-nya, Sultan jatuh cinta terhadap putri Kalamiah berasal dari Kerajaan Pahang yang sesudah itu mempelajari sang putri sebagai seorang istri. Putri Kalimah adalah seorang putri yang bukan sekedar cantik, namun juga bijaksana, apalagi jadi penasihat dan pandai. Sesudah sebagian Koeta Radja (Julukan yang diberikan oleh penjajah Belanda untuk kota Banda Aceh), putri Kalamiah tidak merasa betah di Aceh dan selalu rindu kampung halamannya, Negeri Pahang.

Sultan pun mencari cara agar Putri Pahang dapat melepas rindu kepada kampung halamannya. Sultan pun membangun Gunongan dengan bentuk menyerupai miniatur pegunungan yang mengelilingi Istana Kerajaan Pahang.

Gunongan dibangun berasal dari bahan pasir, batu kapur, dan kapur perekat dengan ketinggian 9,5 meter. Pintu masuk dibangun rendah layaknya terowongan sampai jalur menuju puncak. Gunongan dapat dilewati dengan menaiki tangga rendah. Agar lebih indah dan romantis, Sultan juga membangun Taman Sari penuh bunga.

Kiri : Sultan Iskandar Thani (1636 – 1641 M) | Kanan : Gunongan
Gunongan dan Makam Sultan Iskandar Tsani 1874 yang diubah lokasi aslinya saat diduduki oleh penjajah Belanda. Foto : PDIA

Biasanya, Puteri Pahang menggunakan taman ini untuk mandi di sungai Darul Asyiqi (sekarang disebut Krueng Daroy atau Sungai Daroy) yang mengalir jernih di tengah Taman. Lalu puteri naik dan bersantai di atas Gunongan, sambil mengeringkan rambutnya, tentu saja Puteri selalu ditemani oleh dayang-dayangnya. Anda juga bisa menaiki dan merasakan sensasi menaiki Gunongan ini.

Pada awalnya Gunongan dan Taman Putroe Phang adalah bagian dari satu kompleks kerajaan. Namun di kemudian hari dibangun sebuah jalan yang pada akhirnya memisahkan keduanya. Jalan itu itu dibangun oleh penjajah Belanda pada masa kolonial. Taman dan Gunongan yang awalnya dibangun untuk istri Sultan Iskandar Muda ini kemudian sebagian besar digunakan oleh militer.

Tiket Masuk, Gratis!!!

Taman Potroe Phang dan Gunongan saat ini telah didesain dengan apik dan indah oleh pemerintah kota Banda Aceh. Wisatawan yang berkunjung ke taman ini tidak hanya bersantai, tetapi juga menjadi wisata sejarah. Taman ini buka setiap hari mulai pukul 8 pagi hingga 6 sore WIB dan tidak dipungut biaya masuk sehingga traveler sepuasnya menikmati keindahan taman Phang Putro ini. (VBA)